Penglipuran: Desa Paling Rapih & Bersih Di Bali
Monday, July 9, 20180 Comments
Penglipuran: Desa Paling Rapih & Bersih Di Bali

Penglipuran: Desa Paling Rapih & Bersih Di Bali

  • Eka Awaludin

  • A dreamer who trying to loves writing and blogwalking. Man of nature. The wrong man in the wrong time. Going with the flow. Penggemar CSS dan HTML.
Karena merasa bosan di kosan terus aku memutuskan untuk melihat-lihat di internet untuk mencari informasi tempat-tempat menarik di Bali. Aku membaca di internet tentang Pantai Water Blow yang ga jauh dari Tempat Kosku di Nusa Dua. Hmm, tempatnya bagus tapi kemudian aku menemukan sebuah artikel tentang Penglipuran, sebuah desa yang sangat bersih dan rapi. Setelah membaca ulasannya aku menjadi tertarik untuk berkunjung. Kemudian aku menggunakan google map untuk menemukan desa Penglipuran dan aku mencari informasi tentang transportasi ke sana.
Keesokan harinya aku bangun pagi-pagi, aku mandi dan menyiapkan barang-barang. Dalam perjalanan ke halte Trans Sarbagita (1) di Nusa Dua aku membeli air mineral dan teh melati. Tapi aku balik lagi dan menuju ke toko obat Kimia Farma untuk membeli obat mual dan pelega tenggorokan karena aku merasa mual di halte. Aku juga membeli makanan ringan dari Circle K minimarket dan kemudian aku kembali ke halte.
Setelah menunggu sekitar 15-20 menit bus datang. Tarif bus Trans Sarbagita sangat murah, hanya Rp 3.500 ke mana pun kita ingin pergi. Di bus aku bertanya kepada kondektur tentang berapa lama perjalanan ke stasiun bus Batubulan. Dia mengatakan "sekitar 1 jam".
Aku membaca di internet sebelumnya jika aku bisa pergi ke Bangli dengan Bemo (2). Aku bertanya kepada orang-orang di sekitar Terminal Bus Batubulan, tentang Bemo yang menuju ke desa Penglipuran. Mereka mengatakan ga ada Bemo dari Stasiun Bus Batubulan ke Desa Penglipuran. Setelah ngobrol-ngobrol mereka merekomendasikan perjalanan estafet ke desa Penglipuran.
Aku mengendarai Bemo ke sebuah pertigaan dengan biaya IDR 30.000, aku ga tau apa nama pertigaannya karena ga nanyain. Kemudian aku naik minibus dan membayar Rp 10.000 dan berhenti di sebuah jalan yang menuju Penglipuran. Aku kemudian jalan kaki ke desa Penglipuran karena ga ada transportasi lagi yang menuju sana. Aku tiba di desa Penglipuran setelah berjalan sekitar 200 m. Aku membayar biaya masuk Rp 7.500 dan akupun masuk.

Desa Penglipuran
Di desa Penglipuran aku melihat-lihat ke setiap rumah disana dari jalan. Aku perhatikan setiap rumah memiliki arsitektur Hindu. Aku berhenti dan beristirahat di sebuah Bale Bengong (3). Aku melihat dan mendengar orang-orang di sekitar sambil mengeringkan keringat dengan handuk kecil yang aku bawa, banyak sekali wisatawan yang sedang beristirahat dan juga yang sedang berlalu-lalang di jalan utama desa Penglipuran.
Jalan utama desa Penglipuran.
Tempat keramat di desa Penglipuran
Aku kemudian memasuki sebuah area besar yang tampaknya dan terlihat seperti ditujukan untuk ritual keagamaan, suasananya tenang dan mistis. Aku keluar dari desa melalui hutan bambu, aku membeli minuman di warung kemudian aku menuju ke jalan utama. Aku menunggu bus di gerbang sebuah rumah yang dinaungi bayangan pepohonan.

Kesorean Dan Hampir Ga Bisa Pulang
Aku melihat jam di ponselku, jam menunjukkan pukul 16:00 +8 GMT. Wow! Aku ga menyadari jika waktu berjalan begitu cepat. Setelah menunggu sekitar 1 jam, aku bertanya kepada seorang nenek tentang jam operasi bus yang mengarah ke pertigaan. Dia berkata "bus udah ga beroperasi pada sore hari, besok pagi bus mulai beroperasi lagi dan mungkin kamu harus nginep". Aku berpikir tentang biaya yang dikeluarkan jika aku mencari hotel, mungkin biayanya sekitar Rp 100.000 - 150.000 di hotel murah dan sepertinya lebih baik daripada memanggil Taksi Bluebird.
Setelah menunggu lama aku pergi dan nanyain lagi tentang transportasi ke seorang perempuan di warung Nasi Goreng. Dia juga mengatakan "bus udah ga beroperasi pada sore hari" tetapi dia merekomendasikan Ojek. Aku pikir-pikir mendingan pulang aja kalau ada Ojek mah.
Dia dan pemilik warung membantuku mencarikan Ojek yang bersedia nganterin aku ke Terminal Bus Batubulan di sore hari. Aku merasa sangat bersyukur karena aku ga perlu menghabiskan banyak uang untuk tinggal (derita Budget Traveller). Aku menunggu sebentar dan kemudian Ojek itu datang, kemudian aku beranjak dan mengucapkan terima kasih kepada pemilik warung Nasi Goreng.
Di jalan aku bernegosiasi soal ongkos dan akhirnya aku harus membayar Rp 80.000 hingga terminal bus Batubulan. Kami berbincang-bincang kemudian aku mengetahui bahwa pengemudi Ojek itu sudah tinggal di Jakarta selama 30 tahun. Dia juga tahu dan punya teman dari Majalengka. Kami juga berbicara tentang budaya Bali seperti Tajen (4), Ngaben (5), Bali Aga atau Bali Age (6) dan lain-lain. Di Stasiun Bus Batubulan ia mengajak untuk menukar nomor ponsel. Dia berkata, "Jika kamu bepergian ke Bangli lagi, jangan ragu untuk meneleponku" dan kemudian aku tahu namanya adalah Kadek.
Aku naik Trans Sarbagita dari halte Batubulan ke halte di Nusa Dua, setelah sampai aku kemudian pulang ke kosan.

Index
  1. Trans Sarbagita
    Bus Trans Bali.
  2. Bemo (Balinese)
    Transportasi umum sejenis minibus.
  3. Bale Bengong (Balinese)
    Gazebo persegi panjang untuk bersantai atau tidur.
  4. Tajen (Balinese)
    Sabung ayam. Mengingatkanku kepada budaya sabung ayam di Mohenjo Daro, India.
  5. Ngaben (Balinese)
    Upacara Kremasi. Adalah ritual pemakaman yang dilakukan di Bali untuk mengirim yang meninggal ke kehidupan selanjutnya. Mengingatkanku pada orang-orang India yang mengkremasi yang meninggal dan membuang abu kremasi ke sungai Gangga.
  6. Bali Aga atau Bali Age atau Trunyan Village
    Bali kuno, dihuni oleh keturunan orang Bali asli.
No comments :

Post a Comment